Perencana Kota : Hakekat dan Tantangannya

Kategori Thought

Perencanaan wilayah dan kota, sebuah prodi yang lebih dikenal sebagai bidang tata kota atau planologi ini, memang bertujuan untuk mencetak kader-kader perencana (planner). Seperti namanya, seorang planner bertugas membuat sebuah rekayasa rencana atas dasar disiplin ilmu yang mereka dapatkan. Sayangnya, belum banyak orang yang mengenal hakekat perencanaan itu sendiri. Pada bahasan ini, saya akan mencoba memberikan pandangan terkait masalah tersebut.

Gambaran yang saya bayangkan saat pertama mendengar kata perencanaan, ialah suatu kegiatan yang identik dengan persiapan. Ibarat panglima yang ingin berperang, ia harus menyiapkan strategi dan amunisi untuk pertempurannya. Maka bila dianalogikan dengan hal tersebut, bayangan saya mengenai kata perencanaan pun semakin berkembang pada proses pembuatan konsep (strategi & amunisi) untuk suatu tujuan (menang dalam pertempuran). Namun hal tersebut belum mampu menjawab hakekat perencanaan secara mendalam.

Sekarang, setelah melewati setidaknya 2 semester di prodi perencanaan wilayah dan kota, membuat saya lebih mengenal apa itu perencanaan bila dibandingkan gambaran awal yang sebelumnya saya kemukakan. Secara luas, di sisi akademis, perencanaan sering dikaitkan sebagai sebuah proses pengambilan keputusan. Dimana proses ini dilakukan secara sistematis dan terstruktur mengikuti pola input (masukan), analisis (pengkajian), dan output (produk) serta adanya evaluasi sebagai kontrol keberhasilan kegiatan tersebut. Proses yang membentuk siklus ini akan terus berputar sebagai input pada perencanaan berikutnya.

Dalam siklus perencanaan, planner menempatkan posisi data dan informasi sebagai input di dalam kerangka kegiatannya. Kedudukan data memiliki peranan sangat penting dalam perencanaan. Sebagai input, melalui penelitian dan pengumpulan data, seorang perencana dapat memperoleh pemaparan mengenai fakta dan fenomena yang ada. Perolehan ini dapat membantu dalam proses berikutnya, yakni proses analisis, sebuah proses yang mampu menggambarkan berbagai potensi, masalah, kecendrungan, dan harapan berdasarkan pengolahan data yang diterima. Setelah melalui proses tersebut, barulah seorang perencana mampu menyajikan sebuah produk output berupa rencana.

Orientasi perencanaan yang digunakan para planner tentu merupakan rekayasa untuk masa depan sebagai domain kerjanya. Mereka memiliki sasaran serta tujuan tertentu dalam menciptakan kesejahteraan kehidupan mendatang yang jauh lebih baik. Lingkupnya pun terbagi atas tiga kelompok besar yang saling berhubungan, yakni kegiatan kehidupan manusia, tata nilai, dan komponen keruangan. Dalam pembentukan konsep, para perencana idealnya melihat dari beberapa sudut pandang (perspektif) yang mungkin dapat mempengaruhi kehidupan di masa mendatang. Menganalisls suatu kasus secara komperhensif (multidisiplin), menyeluruh ataupun holistik, menjadi bagian penting dalam proses perencanaan untuk mengurangi resiko berupa efek domino dari penanganan masalah.

Umumnya, perencanaan yang dibuat lulusan planologi bertujuan untuk mengatasi berbagai masalah yang hadir dalam lingkup kerja mereka. Analisisnya perlu menjunjung efektifitas dan efisiensi dengan mempertimbangkan berbagai batasan yang ada. Tak ubahnya seperti seorang dokter, para perencana juga mendiagnosa ‘penyakit’ yang ‘menggrogoti’ domain kerja mereka. Semakin mereka mengetahui permasalahannya akan semakin mudah menemukan akar solusinya. Lanjut lagi, planner pun akan memberikan ‘resep’ hasil diagnosisnya dalam bentuk solusi. Penawaran solusinya pun tidak hanya satu, perencana juga menawarkan berbagai solusi alternatif sebagai skenario pengobatan lain atas kemungkinan yang bisa terjadi. Maka dari itu, tak sedikit dari mereka yang menobatkan diri sebagai ‘dokter kota’ maupun problem solver.

Kembali pada bahasan analisis masalah, telah disebutkan bahwa perencanaan merupakan sebuah proses yang berupaya untuk mengatasi masalah beserta resikonya. Telah banyak tulisan mengakui bahwa merencanakan (mengatur) manusia (kegiatan) lebih sulit dibandingkan memanajemen wilayah. Hal ini mungkin diakrenakan tingkat kedinamisan manusia dalam melakukan kegiatan lebih tinggi dibandingkan ruang yang sifatnya statis. Misalnya saja dalam kasus pertumbuhan penduduk yang mampu memicu masalah lain menjadi lebih kompleks. Maka dari itu, kemampuan planner untuk memanajemen persoalan rasanya mutlak diperlukan. Semakin matang sebuah perencanaan, semakin percaya diri menggapai hasilnya!

Tanggapi Artikel Ini