Dia Bilang PWK (Bukan) Teknik!

Kategori Thought
img source: wisegeek.com
img source: wisegeek.com

Eits, jangan beranjak marah dulu ketika melihat judul postingan ini. Tulisan ini merupakan hasil perbincangan saya dengan mahasiswa S2 Teknik Sipil UGM yang tak sengaja bertemu di salah satu rumah makan dekat pondokan. Mengawali perbincangan, mas yang saya lupa berkenalan nama dengannya, bertanya dimana saya kuliah.

“UGM, di Perencanaan Wilayah dan Kota”, jawab saya.

“Oh, Planologi?”, feedback-nya

“Iya, Planologi. Masnya kuliah? S1 atau S2?”

“Saya S2 di Teknik Sipil UGM”, jawab laki-laki tersebut sambil menikmati makanan yang diambilnya.

Sebenarnya, ketika ia mengajak saya ngobrol, makanan saya sudah hampir habis. Namun saya tak beranjak pulang karena perbincangan ini semakin membuat saya tertarik.

“Kalo di PWK tuh diajarin RUTR (Rencana Umum Tata Ruang) ya?” tanyanya lagi.

“Oh iya mas”

“Sebenarnya kalo buat itu, gak mesti anak PWK semua kan? Soalnya pasti butuh ahli-ahli lain, kayak orang hidrologi, lingkungan, dan lainnya. Penyusunannya harus secara teamwork”

“Iya, di PWK pun kita diajarkan untuk bisa bekerja dalam tim mas”, tanggap saya.

“Planologi sama PWK tu sama gak sih?”

“Iya sama mas. Cuma kalo planologi itu sebutan buat PWK-nya ITB”, jawab saya.

“Oh, iya. Soalnya ada temen saya yang kuliah di planologi ITB. Dia belajar mengenai kebijakan-kebijakan, kurang kearah teknik hitung-hitungannya kaya di sipil”

“Oh justru ITB lebih kena tekniknya dibandingkan PWK UGM mas, kalo di kami hitungannya bukan hitung-hitungan fisika, tapi lebih kearah statistik”, ucap saya.

“Iya, iya, probabilitas gitu ya? PWK itu memang pantas buat masuk ke manajemen, tapi bukan manajemen ekonomi, lebih kearah manajemen wilayah gitu”

Saya pun mengangguk dan tersenyum seolah menyetujui apa yang ia ungkapkan. Tak lama saya pun menanggapi, “Oh, karena di PWK masih ada rekayasanya, makanya PWK masih di Teknik mas”

“Ya, mungkin, itu, PWK itu masih ada unsur rekayasa tapi kearah rekayasa berbau manajemen”, lanjut mahasiswa sipil yang menyelesaikan S1-nya di Universitas Hasanudin, Makasar. Saya pun hanya berbalas mengangguk pada orang yang baru saya temui meski lupa berkenalan nama.

Dalam hati saya, bersekolah di prodi Perencanaan Wilayah dan Kota adalah hal yang hebat. Mahasiswanya tidak hanya dikaderisasi untuk sekedar memahami teknik-teknik perencanaan, namun lebih kepada manajemen rekayasanya secara multidimensi. Maka dari itu, bukankah seorang planner akan lebih bangga bila disebut sebagai manager kota?

Ikuti keseruan lainnya, follow instagram saya di sini.

9 komentar pada “Dia Bilang PWK (Bukan) Teknik!

  1. Saya selalu bosan dengan diskusi mengenai “lebih bagus jurusan apa?”, “lebih berprospek jurusan yang mana?”, “lebih enak jurusan apa?” sekarang ditambah lagi dengan diskusi “seberapa teknik kah planologi atau pwk?”

    Saya rasa orang yang mempertanyakan kenapa pwk itu masuk ke dalam fakultas teknik belum mengetahui secara pasti apa sih pwk. belajar apa sih. Apa planologi itu ilmu tanaman atau apa. Haha. Biasanya hipotesis mereka berdasarkan asumsi (yang sebagian besar memihak) bukannya ilmu pasti dan definisi yang tepat. Jadi saran saya saudara Rendy, kalo ketemu orang yang nanya kenapa pwk bisa masuk teknik, balik tanya dia dulu, tau gak pwk itu apa? belajarnya apa? :p

    Salam,
    icha :3

  2. oh my god.
    yang penting pwk 😀
    ..jadi inget ada yg ngira planologi itu temennya astrologi.. tapi mirip jg ya, ada proyeksi2 masa depan =3

  3. Masuk Planologi di ITB, apakah harus melalui undergraduet dulu, ato bisa langsung ke Magister (S2) ?

    Saya, lulusan sarjana Tahun 2016, udh jadi cita-cita bgt ingin manjadi Planner masuk k PWK.

  4. Saya stuju sekali sama pendapat kalian… Saya juga jurusan Planolog dari UTY.. Saya pernah mendengar perbincangan anak-anak teknik yang lain yang mengatakan bahwa mahasiswa2 pwk enak diajak bekerja sama dalam menyelesaikan suatu atau beberapa masalah

Tanggapi Artikel Ini