Hutan Reklame, Pemandangan Baru Kota Kita!

photo: elshinta.com

photo: elshinta.com

Bukan hal baru bila Anda melihat “keceriaan warna” saat melintas di sepanjang jalan utama kota-kota besar di Indonesia. Ya, variasi warna glamouris semacam ini, tercipta oleh padatnya jajaran papan reklame yang saling beradu kehebatan. Semakin besar dan fullcolour sebuah reklame, semakin dahsyat “teriakan” tentang informasi yang hendak disampaikannya. Menumpuknya papan reklame tersebut seakan membuat “kesemrawutan baru” pada permasalahan kota yang kian kompleks.

Contohnya saja, Yogyakarta. Selain sebagai kota pendidikan, kini Yogyakarta juga dikenal sebagai kota komersial. Banyaknya kawasan usaha dan transaksi perdagangan di kota ini turut andil pada terciptanya status tersebut. Sementara itu, untuk meningkatkan pemasarannya, memanfaatkan arus informasi dengan papan reklame dinilai sebagai cara yang paling tepat dan efektif bagi pelaku komersial. Lantas apakah hal ini akan tetap tepat dan efektif jika dilakukan secara berlebihan dan tak beraturan?

Dilihat dari perkembangannya, kawasan komersial Yogyakarta cenderung mengalami peningkatan yang nantinya berbanding lurus dengan semakin semrawutnya pemasangan papan reklame. Kesemrawutan papan reklame merupakan implikasi dari pengaturannya yang tidak terencana. Jika hal ini terus berlanjut, dapat merusak perencanaan kota yang mestinya terarah lebih baik. Pola penataan bangunan yang telah direncanakan akhirnya kandas oleh informasi visual papan reklame yang mampu mengelabuhi konsumen untuk menikmati dan membeli produk dagangannya.

Dengan menjamurnya komersialisasi papan-papan reklame tersebut, nyatanya bisa berdampak pada terganggunya proses penataan citra kota. Tumbuhnya papan-papan reklame secara liar, mampu merusak keindahan kota dan menghilangkan orisinalitas atau ciri khas suatu wilayah. Kini, tak sedikit yang menilai kawasan Malioboro telah kehilangan cirikhasnya akibat tumpukan papan reklame yang adu kehebatan. Suasana sesak pun semakin terasa.

Hal ini seharusnya disadari para penentu kebijakan (pemerintah kota) dalam menata dan mengatur tumbuhnya papan reklame. Perlu ada perubahan mendasar tentang sistem perizinannya. Mulai dari bentuk, besaran serta ukurannya dijadikan beberapa indikator yang harus diperhatikan. Pertimbangannya pun mencakup beberapa hal, diantaranya ialah fungsi keruangan, lebar jalan, jarak pandang, tinggi bangunan, dan sebagainya. Selain itu, yang tak kalah pentingnya ialah perlu menjaga kawasan dan bangunan bersejarah yang terdapat pada daerah tersebut. Upaya semacam ini, diharapkan mampu “menggunduli” hutan reklame yang tumbuh secara liar.

Tinggalkan Balasan