Pertanian, Investasi Masa Depan yang Menjanjikan

photo: iacpublishinglabs.com
photo: iacpublishinglabs.com

Prediksi Thomas Robert Malthusian (1766-1834) di tengah gencarnya industrialisasi, pada tingkat tertentu, memang berhasil ditepis melalui revolusi hijau. Berbagai mesin dan teknologi yang mulai banyak ditemukan, membuat perekonomian negara-negara Eropa semakin melambung tinggi. Sayangnya, kemajuan tersebut tak berbanding lurus dengan meningkatnya daya dukung lingkungan sebagai penopang kehidupan. Pembangunan dilakukan dengan mengeksploitasi kekayaan bumi secara ekstraktif dan besar-besaran, demi memenuhi kebutuhan manusia yang jumlahnya meroket signifikan.

Dulu, Malthusian mengkhawatirkan laju pertumbuhan penduduk yang jumlahnya mengikuti deret ukur namun tak mampu diimbangi dengan produktivitas sumber daya alam yang hanya meningkat layaknya deret hitung. Betapapun itu, kini dunia kembali diwarnai kekhawatiran tersebut. Rapuhnya ketahanan pangan menjadi tema besar yang sering dikonvensikan. Dunia internasional semakin gelisah dengan ketersediaan “makanan”, belum lagi keharusan beradaptasi dengan pemanasan global.

Indonesia menghadapi tantangan serupa. Negara yang pernah melakukan swasembada beras di era 80-an ini, justru semakin lesu di sektor pertanian. Alih fungsi lahan produktif menjadi salah satu tantangan utama yang berkontribusi pada menurunnya pasokan pangan nasional. Apalagi pembangunan selama ini cenderung memandang lahan sebagai komoditas transaksi yang membuat penggunaannya mudah beralih bagi perkara-perkara paling menguntungkan.

Di Pulau Jawa misalnya, lahan produktif semakin menipis seiring meluasnya kawasan perkotaan yang cenderung tak terkendali. Padahal lahan pertanian Jawa memiliki kesuburan 4 kali lebih tinggi dari Sumatera dan 8 kali lebih tinggi dari Kalimantan (Emil Salim, 2010). Artinya bila 1 ha sawah di Jawa beralih fungsi menjadi lahan terbangun, dibutuhkan 8ha lahan produktif di Kalimantan untuk menggantinya agar ketahanan pangan tetap terjaga.

Produksi pangan yang terus menurun  berimplikasi pada harganya yang semakin meningkat. Apalagi “makan” merupakan kebutuhan mutlak makhluk hidup untuk menjaga eksistensinya. Bila hal ini tidak dikendalikan, maka sangat mungkin “perang” di masa depan terjadi karena perebutan kuasa atas pangan. Oleh karena itu, pertanian perlu dilirik sebagai investasi yang menjanjikan. Bukan malah ditinggalkan.

Tinggalkan Balasan