Ini Dia, Cara Singapore Batasi Rokok!

Kategori Insight
photo: turbophoto.com
photo: turbophoto.com

WHO (2008) mencatat Indonesia sebagai negara penikmat rokok terbesar ke-3  sedunia. Lebih dari 200 milyar batang rokok terus beremisi di negeri ini tiap tahunnya. Ironisnya, sekitar 35% dari 60 juta perokok Indonesia ialah remaja berusia 15-19 tahun. Hasil penelitian mengungkapkan 4000 bahan kimia beracun yang terkandung di tiap batang rokok, siap menghantarkan para penikmatnya menuju jurang kematian terbesar ketiga dunia. Tiap tahun, 57.000 perokok Indonesia tewas akibat ketidakpeduliannya terhadap bahaya rokok.

Perhatian yang minim semacam ini, membuat Indonesia dikenal sebagai surganya para perokok. Di sini, ahli hisap (perokok) masih ditoleransi membakar rokoknya di tempat umum, menghembuskan asapnya secara liar, dan membuang puntungnya sembarangan. Berbeda dengan yang dilakukan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapore. Kedua negara ini sudah lebih sadar akan bahaya rokok dan melakukan upaya preventive guna membatasi pemakaian rokok bagi penduduknya. Apa yang dilakukan kedua negara ini?

  • Bungkus rokok bersampul paru-paru rusak
    Baik di Singapore maupun Malaysia, rokok yang di impor dari Indonesia memiliki bungkus yang telah dimodifikasi desainnya. Foto bergambar paru-paru berwarna ungu kebiruan dengan bercak-bercak hitam dan urat-urat yang keras keluar, sangat jelas terpampang di sampul tersebut. Hal ini merupakan upaya mengingatkan para konsumen terhadap ancaman menghisap rokok.
  • Harga rokok dibuat melejit
    Di Indonesia, sebungkus rokok dihargai sekitar 10-15ribu rupiah. Berbeda dengan Singapore, rokok dengan merek yang sama dihargai S$10 (senilai 70ribu rupiah) per bungkusnya. Hal ini merupakan cara ampuh membatasi transaksi rokok di negara ini, karena konsumen harus berpikir dua kali untuk membelinya.
  • Larangan menjual rokok bagi anak di bawah 18 tahun
    Selain peringatan tentang ancaman rokok yang besar terpampang di tiap bungkus rokok, larangan mengenai penjualan rokok bagi anak dibawah 18 tahun pun juga jelas mewarnai sampulnya. Bagi penjual yang terbukti melanggar aturan ini, akan mendapatkan sanksi yang tegas termasuk menarik izin usahanya.
  • Pengawasan ketat dengan sanksi tegas
    Di Singapore, merokok di tempat umum jelas ada aturannya. Para perokok hanya diperbolehkan merokok di tempat-tempat bertanda “smoking area”. Berjualan rokok pun harus di tempat-tempat terdaftar yang sudah memiliki izin transaksi. Program ini semakin berjalan efektif karena di tiap-tiap sudut Singapore dilengkapi CCTV selama 24 jam nonstop. Siapa pun yang melanggar, sanksi yang ditawarkan mampu menguras kocek senilai S$500 (senilai 3,5juta rupiah).

Itulah beberapa upaya preventive mereka untuk membatasi konsumsi rokok di negaranya. Lalu bagaimana dengan Indonesia yang masih berfokus pada pertumbuhan ekonomi, pemilik kegalauan kontribusi rokok pada APBN yang cukup tinggi di tanah air, dan pemberi sponsor bagi kegiatan berskala nasional hingga internasional? Ini satu lagi bukti bahwa pertentangan antara ekonomi, sosial, dan lingkungan terus menjadi perdebatan menciptakan segitiga keberlanjutan pembangunan. Solusi yang baru bisa ditawarkan, jadilah pribadi yang tidak egois, menempatkan sesuatu pada tempatnya secara bijaksana. Merokok boleh selama tidak merugikan.

Tanggapi Artikel Ini