Bagaimana Malaysia Menghargai Keberadaan Muslim

Kategori Insight
Bangunan Pemerintahan Putrajaya - Foto : Lembah Tri Lestari
Bangunan Pemerintahan Putrajaya – Foto : Lembah Tri Lestari

Sekitar 2 bulan yang lalu, tepatnya 10-15 Juli 2011, saya bersama 85 rekan planner angkatan 2009, berkesempatan untuk melakukan kunjungan ke dua negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Sedikit me-review, acara ini merupakan kegiatan yang terangkum dalam rangkaian Kuliah Kerja Perencanaan (KKP) 2011, program studi Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Gadjah Mada.

Sebagai orang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di luar administratif NKRI itu, tentu memiliki kesan tersendiri saat melakukan kunjungan, khususnya di negeri Jiran Malaysia. Negara  dengan dominasi ras Melayu Muslim ini, ternyata memiliki karya luar biasa yang mampu memberikan kesan bangga bagi umat Islam yang tengah berkunjung ke sana. Mungkin ini berlebihan, mengingat tanah air Indonesia merupakan negara mayoritas Muslim dunia dengan ratusan kebanggaannya, tapi inilah yang saya rasakan :

  • Malaysia mampu menyatukan Islam dan modernitas
    Kata “wah” spontan terlontar saat berkunjung ke Putrajaya, sang ibukota baru Malaysia. Saya rasa, siapapun yang berkunjung atau sekedar melintas di kawasan ini, boleh jadi terkesima melihat bangunan pusat pemerintahan yang berdiri megah nan eksotis. Bangunan tersebut didesain menyerupai masjid dengan sentuhan modernitas. Akses yang besar melintasi sungai dengan ruang terbuka publik yang amat besar, memberikan “roh” eksklusif untuk segera memusatkan perhatian pada bangunan ini. Berdampingan dengan masjid yang juga mempesona disertai panorama sungai dan jembatan bercahaya indah pada malam hari, benar-benar mampu menyajikan kultur Islam yang modern. Subhanallah.
  • Sopan berkepribadian merupakan kebiasaan
    Memiliki adab yang santun rasanya telah menjadi kebiasaan di negeri ini. Malaysia, di beberapa titik kegiatan genap menyelipkan ajakan untuk tetap berbudi pekerti. Salah satunya di kampus UTM (Universiti Teknologi Malaysia), dimana tersebar papan-papan yang mengingatkan pembacanya untuk selalu menjunjung tinggi kesantunan dalam berkehidupan.
    Apalagi kalau soal ibadah. Di Masjid Putrajaya misalnya, seorang wanita Muslim yang belum menutup auratnya secara utuh (misal : tidak berjilbab), tidak diperkenankan masuk untuk melakukan sembahyang. Mereka akan dipinjamkan pakaian khusus terlebih dahulu untuk menutupi seluruh auratnya. Para takmir pun tak segan mengingatkan pengunjung untuk tidak tidur-tiduran di masjid. Mereka meyakini bahwa esensi ibadah justru terletak pada kekhusuk’an berkomunikasi dengan Sang Pencipta.
  • Kenyamanan tanpa kecurigaan
    Kemirisan justru terjadi saat mengurus administrasi di Woodland (perbatasan Singapura-Malaysia) ketika ingin berkunjung ke negeri Singa. Beberapa rekan saya sempat tertahan oleh keamanan Singapura akibat kecurigaan nama “Islam” yang disandangnya. Seperti dalam adegan “My Name Is Khan”, mereka yang tertahan, mengaku diintogerasi berkaitan dengan isu terorisme. Hal ini jelas berbeda dengan Malaysia yang tidak menaruh curiga secara berlebihan pada para penyandang nama berkultur Islam.
  • Indahnya keramahan bersosial
    Ingat sekali ketika saya dan seorang teman mencari masjid di Woodland. Kali ini setelah saya melakukan kunjungan selama dua hari di Singapura dan hendak kembali ke Malaysia menuju tanah air. Saat itu, kami bertanya pada penjual makanan “halal” yang notabene adalah orang Malaysia.
    “Excuse me Sir, Where is the mosque?”, tanya kami.
    “You are Muslim? Malaysian?”, ia berbalik tanya.
    “We are Indonesian Muslim”, balas kami kembali.
    “Ooohhh.. Indonesian!”, teriaknya ia dengan senyuman dan mengajak kami berjabatan tangan. Sambil dirangkul dan seolah menemukan saudaranya, kami ditunjukkan arah masjid menggunakan bahasa melayu. Betapa indah keramahan sosial yang mereka tunjukkan meskipun tidak berada di negerinya sendiri.

Ya, itulah sedikit cerita tentang bagaimana Negeri Jiran menunjukkan kebanggaannya terhadap kebudayaan muslim. Bagaimana dengan Indonesia? Banggakah Anda menunjukkan karya dengan nuansa keindahan Islam? Kita tunggu saja!

Panorama Jembatan Putrajaya - Foto : Renindya Azizza
Panorama Jembatan Putrajaya – Foto : Renindya Azizza
Masjid Putrajaya - Foto : Aulia Sabrina
Masjid Putrajaya – Foto : Aulia Sabrina

1 komentar pada “Bagaimana Malaysia Menghargai Keberadaan Muslim

  1. sebuah informasi yang sangat inovatif dan merupakan sebuah ide yang menarik untuk dipelajari, dan saya sangat senang dengan tulisan anda yang membuat saya selalu belajar dan belajar, terima kasih atas ide dan kreasinya!

Tanggapi Artikel Ini