Stuttgart 21, Memaknai Kembali Peran Penting Lingkungan Hidup

photo: zeit.de
photo: zeit.de

Kesempatan luar biasa kami dapatkan ketika melakukan kunjungan studi ke Jerman beberapa waktu lalu. Saya bersama 11 rekan planner lainnya yang tergabung dalam kelompok studi bernama Planogama, diundang DAAD untuk mempresentasikan penilitian kami di 4 universitas di Jerman. Sebagai informasi saja, penelitian kami membawa tema kampung kota sebagai model compact city di Indonesia. Pada tulisan ini, saya belum berbicara tentang apa dan bagaimana penelitian yang kami bawakan. Akan tetapi lebih kepada salah satu pelajaran menarik yang saya dapatkan selama melakukan observasi di sana.

Kunjungan pertama kami adalah Kota Stuttgart. Ya, Stuttgart merupakan sebuah kota modern yang terletak di bagian selatan negara Jerman. Saat ini kota tersebut mendapat banyak perhatian dari kelompok masyarakat konservatif yang menentang proyek pemerintah bernama Stuttgart 21, sebuah proyek perluasan stasiun utama di kota Stuttgart. Dari informasi yang saya dapatkan, penduduk Stuttgart melakukan demonstrasi terhadap proyek tersebut dengan alasan adanya permainan politik di tubuh pemerintah. Biaya yang sangat mahal, dinilai lebih bijak manakala digunakan untuk subsidi pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan peningkatan kualitas ekologi. Lebih penting lagi, pembangunan Stutgart 21 dinilai hanya akan merusak ekosistem alami kota atas pelecehan hak asasi lingkungan, terlebih  dengan anggaran negara yang sangat besar.

Stuttgart 21 memang sangat dilematis. Di satu sisi, perluasan stasiun dengan menyediakan rel kereta bawah tanah ini, dinilai mampu menjadi pintu masuk Jerman dengan kota-kota lain di Eropa. Namun dengan anggaran yang sangat besar tersebut, proyek ini dapat mengganggu kestabilan ekologi kota karena harus menumbangkan pohon-pohon tua dan langka yang selama ini menjadi paru-paru utama Stuttgart. Selain itu, proyek ini juga beresiko mengganggu kinerja air sebagai sumber utama kehidupan bagi masyarakat kota.

Dengan diimplementasikannya masterplan Stuttgart 21, masyarakat Stuttgart merasa sangat khawatir manakala mereka tak lagi bisa hidup harmonis bersama alam di masa-masa mendatang. Mereka khawatir tak bisa lagi menghirup udara segar di perkotaan. Mereka khawatir manakala di masa depan kesulitan untuk menemukan gerombolan burung dara yang asik bermain bersama manusia di ruang terbuka.  Mereka juga khawatir persediaan air bersih perkotaan menjadi berkurang dan menjumpai kekeringan.

Ya, dari sini kita bisa belajar bahwa masyarakat Stuttgart berfikir kian futuristik. Kecintaannya terhadap lingkungan membuat mereka peduli dengan perkembangan kotanya. Bukankah bersahabat dengan alam adalah bagian dari keniscayaan manusia untuk menjaga eksistensi bumi?

Tinggalkan Balasan