Koln Urban Farming: Apresiasi Kemandirian Pangan

Kategori Insight

Terbatasnya akses lahan di perkotaan ternyata tak hanya dirasakan oleh negara-negara berkembang. Layaknya Indonesia, Jerman sebagai negara yang lebih maju ternyata juga memiliki tantangan besar untuk melakukan efisiensi lahan di area urban. Secara demografi, meski sebagian besar strukturnya mengalami penurunan pada angka penduduk, kebutuhan lahan di Jerman nyatanya tetap mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya penduduk di usia produktif yang enggan atau menunda menikah, tetapi memiliki keinginan untuk berhuni di satu rumah.

Ya, lahan (tanah) memang barang ekonomi yang unik. Karakternya yang spesial dan ketersediaannya yang terbatas, diminati oleh banyak sektor untuk dimanfaatkan. Maka dari itu, tak heran bila sebagian kepemilikannya diwarnai oleh permainan politik. Ketika orientasi hanya pada keuntungan, biasanya sektor ekonomi bisnislah yang akan didahulukan. Sementara itu, sektor-sektor yang dianggap “kering”, seperti sosial dan lingkungan, wajar saja menjadi  “halal” untuk diabaikan.

Berbicara tentang politik lahan, ada satu hal menarik yang saya jumpai ketika mengunjungi kota Koln, Jerman. Di kota yang tergolong metropolitan ini, untuk mendapatkan sepetak tanah sangatlah sulit. Keberadaannya yang terbatas membuat harga lahan di kota ini kian melangit. Uniknya, di tengah kondisi yang demikian, ada satu komunitas urban farmimg (kota berkebun), mendapati keberhasilan besar dalam melakukan negosiasi kebutuhan tanah dengan pemerintah setempat. Tak main-main, luasan tanah yang diberikan pemerintah untuk mendukung aksi ini, sangatlah besar dengan letak strategis di pusat permukiman.

Menurut ceritanya, untuk memenangkan negosiasi politik semacam ini sangatlah beresiko. Para aktivis gerakan urban farming hanya diberi waktu 5 tahun sebagai masa percobaan untuk melakukan kampanye berkebun. Jika gerakan urban farming tak banyak memberi perubahan terhadap kehidupan kota dalam kurun waktu tersebut, konsekuensinya lahan yang diberikan pemerintah akan diambil kembali dan direncanakan untuk membangun perumahan.

Berdasarkan informasi yang saya dapat, gerakan urban farming yang dilakukan di Koln ini merupakan inisiatif masyarakat untuk menghijaukan kotanya. Selain itu, gerakan ini diharapkan mampu menjawab masalah ketahanan pangan bagi masyarakat kota, meski hanya beberapa komoditas saja yang cocok untuk ditanam. Di sisi lain, hasil produksinya mampu membuka alternatif ekonomi masyarakat untuk meningkatkan tabungan finansial.

Ya, belakangan, gerakan urban farming memang mendapat banyak perhatian di berbagai belahan di negara Jerman. Meski paradigma awam berkata bahwa aktivitas berkebun tak lebih menguntungkan dibanding membangun proyek komersil, gerakan menghijaukan kota semacam ini sudah sepatutnya mendapat apresiasi hangat dari dinginnya hiruk-pikuk perkotaan. Meski ekonomi Jerman terbilang kuat untuk “membeli” makanan dari negara lain, nyatanya negara ini masih mengusahakan produksi pangannya  secara mandiri. Bukankah pepatah populer pernah bernasehat lebih baik mencegah daripada mengobati?

Tanggapi Artikel Ini