Mengapa Berkomunitas? Refleksi Menginisiasi Pemuda Tata Ruang (PETARUNG)

img source: pemudatataruang.org
img source: pemudatataruang.org

“Rendy, planner itu bukan orang yang tukang galau ya. Planner itu yang percaya bahwa masa depan yang lebih baik itu bisa diwujudkan” ~Prof. Bakti Setiawan, Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota UGM

Kata Prof. Bakti, sebagai akademisi ada dua perasaan yang bercampur saat berbicara tentang penataan ruang di Indonesia. Pertama adalah perasaan pesimis karena tata ruang belum menjadi isu yang penting dalam pembicaraan domain publik. Artinya, diskusi mengenai tata ruang hanya terjadi di kalangan pemerintah, akademisi, dan praktisi perencana saja. Sebagian besar masyarakat kita belum betul-betul mengerti apa peran penting hadirnya penataan ruang di negeri ini. Jangankan masyarakat awam, bagi sarjana yang lulus di bidang selain perencanaan wilayah dan kota pun, saya rasa belum tentu memahaminya.

Isu tata ruang yang hanya didiskusikan di kalangan “atas”, bagi saya juga menunjukkan bagaimana pendekatan penataan ruang masih bersifat teknokratik (top-down). Dengan kata lain, hanya yang mengerti dan dianggap “serba tahu” saja yang boleh merumuskannya. Masyarakat (hanya) dianggap sebagai objek tata ruang sehingga mereka cukup “menerima” apapun rencana yang dihasilkan para teknokrat. Beruntung kalau mau menerima, kalau tidak? Jawabannya adalah konflik. Ini berarti rumusan tata ruang beresiko tidak efektif untuk dimplementasikan. Imbasnya pun sangat kentara. Tujuan penataan ruang yang harusnya membangun peradaban kota dan wilayah yang berkelanjutan, kenyataan menjadi sangat sulit diwujudkan.

Pendekatan penataan ruang yang teknokrat rasanya memang perlu dirubah. Selain karena tidak efektif dan tepat sasaran, kita harus melihat kenyataan bahwa masyarakat dan alam Indonesia sangatlah beragam. Kuncinya: banyak kepala akan banyak ide; banyak yang terlibat akan banyak yang sepakat. Kunci ini pun bisa diraih menggunakan pendekatan perencanaan tata ruang yang biasa disebut bottom-up. Saya lebih suka menyebutnya dengan pendekatan komunitas.

Prinsip terpenting yang digunakan oleh pendekatan bottom-up atau pendekatan komunitas adalah partisipasi masyarakat. Mereka yang awam, tidak sekedar “menerima” produk tata ruang saja, melainkan ikut merumuskan. Kita yang (lebih dulu) mengerti harus mau terjun ke masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada mereka tentang pentingnya penataan ruang. Mereka diajak “galau” mengenai berbagai masalah tata ruang yang ada di kotanya. Dari proses ‘galau-isasi’ inilah akan mudah merangsang ide-ide brilian ‘ala masyarakat’ untuk menyelesaikan berbagai permasalahan kotanya. Bila masyarakat sudah dihargai seperti ini, akan mudah bagi kita mengimplementasikan rencana tata ruang yang telah dirumuskan. Percayalah, melalui pendekatan ini, masyarakat akan mengerahkan segala bentuk sumberdayanya untuk mendukung tujuan perencanaan.

Inilah salah satu esensi saya dan teman-teman Perencanaan Wilayah dan Kota UGM mendirikan komunitas Pemuda Tata Ruang (PETARUNG) pada akhir tahun lalu. Agar diskusi penataan ruang yang sejak lama berputar di kalangan ‘atas’, mampu ‘diturunkan’ kepada mereka yang belum mengerti atau yang selama ini acuh terhadap permasalahan kotanya. Tujuannya satu: agar masyarakat (yang belum mengerti) ikut galau dengan permasalahan yang ada di kotanya. Dengan begitu, mereka akan ikut memberi solusi dan berkontribusi (aksi) agar tata ruang di kotanya tidak semakin kacau. Itulah makna dari visi Petarung, “Memasyarakatkan Tata Ruang dan Menata Ruang untuk Masyarakat”. Atau dengan kata lain, “Galau Jamaah, Solusi Jamaah, dan Aksi Jamaah!”.

Aksi-aksi peduli penataan ruang, baik yang berupa institusi formal maupun komunitas, memang telah banyak hadir di negeri kita. Meski dengan nama yang tidak secara eksplisit menyebut “tata ruang” namun gerakan-gerakan seperti komunitas hijau, komunitas pejalan kaki, forum pecinta kota, dan lain-lain, sangat membantu perwujudan ruang kehidupan yang nyaman. Better space, better community, better living. Kondisi semacam inilah yang kemudian memunculkan perasaan kedua sebagaimana ungkapan Prof. Bakti, yakni perasaan optimis bahwa peanataan ruang akan semakin dihargai karena semakin banyak pegiat kota yang secara konsisten mengadvokasi urgensi penataan ruang. Ayo, “Memasyarakatkan Tata Ruang dan menata Ruang untuk Masyarakat!”

Ikuti keseruan lainnya, follow instagram saya di sini.

Tinggalkan Balasan