Merespon Bulan-Bulanan Bekasi

photo: netmedia.co.id
photo: netmedia.co.id

Entah angin apa yang membuat sejumlah netizen menjadikan Bekasi sebagai objek bulan-bulanan di media sosia akhir-akhir inil. Setiba-tiba angin berhembus, setiba-tiba itu pula berbagai respon ramai mewarnai, khususnya dari mereka yang selama ini menetap di Kota Bekasi. Secara umum, ada tiga respon yang hadir: 1) menyerang balik dengan ancaman, 2) menyerang balik dengan candaan, dan 3) mengambil hikmah di balik setiap kejadian. Saya, sebagai warga Bekasi, memilih memberi respon yang ke tiga.

Hikmah pertama dari bulan-bulanan Bekasi mengenai jarak yang jauh mengindikasikan masih adanya problem transportasi dan lalu lintas di kota ini. Dari segi jarak, Bekasi sebenarnya tidak sejauh bila kita melakukan perjalanan ke Bogor. Hanya saja, persoalan-persoalan seperti angkutan kota yang ngetem, kurangnya armada dan frekuensi KRL, serta belum disiplinnya para pengguna lalu lintas, membuat perjalanan menuju kota ini membutuhkan waktu lebih lama sehingga terkesan jauh. Selain itu, kota ini juga masih dihadapkan pada permasalahan jalan yang rusak karena rendahnya kualitas material dan tingginya beban jalan. Buruknya sistem drainase pun menjadi faktor lain yang menyebabkan kondisi jalan tergenang meski matahari sedang terik-teriknya. Kondisi semacam ini dapat dijumpai pada jalan-jalan yang sering saya lewati, yaitu Jl. Raya Komsen, Jl. Dr. Ratna, dan Jl. Raya Cikunir (samping Tol Jatiasih). Ya, ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, khususnya bagi Pemkot Bekasi, mengingat sebagian besar warganya adalah komuter yang berandil besar dalam menggerakkan perekonomian nasional di Jakarta.

Selanjutnya, sindiran terhadap panasnya suhu Kota Bekasi, di satu sisi bisa saja diklaim sebagai dampak perubahan iklim. Namun begitu, marilah kita sejenak berintropeksi. Sebagai kota dengan pertumbuhan investasi yang tinggi, Bekasi mampu menjadi daya tarik para pemodal besar untuk membangun pusat-pusat perbelanjaan dan juga gedung-gedung pencakar langit. Lihatlah bagaimana perubahan tata guna lahan terjadi secara signifikan di sepanjang Jl. Ahmad Yani dan Jl. Raya Kalimalang. Ya, memang tak ada yang salah dari kemajuan ekonomi. Hanya saja perubahan tata guna lahan yang cepat perlu diimbangi dengan ketersediaan ruang-ruang terbuka hijau (RTH) dan area resapan, seperti taman, hutan kota, jalur hijau, dan bendungan. Selain itu, berbagai kegiatan pembangunan berskala besar pun perlu dilengkapi dengan kajian seperti kesesuaian rencana tata ruang, daya dukung lingkungan (termasuk daya dukung lahan dan air tanah), bangkitan dan tarikan transportasi, serta penerimaan dari warga lokal. Kajian-kajian ini perlu dilakukan dalam rangka mengantisipasi resiko-resiko yang mungkin terjadi di masa depan.

***

Berbagai bentuk bulan-bulanan para netizen terhadap Kota Bekasi, sebaiknya dijadikan momentum untuk terus melakukan upaya pembenahan. Menjadikan Kota Bekasi sebagai kota yang lebih layak huni, bukanlah hal yang mustahil. Ini persoalan keberpihakan saja. Soal political will pemerintah daerah agar secara serius menata adil ruang kotanya. Serta, keberpihakan warga kotanya untuk berpartisipasi dalam membenahi berbagai permasalahan yang selama ini terjadi. Melalui pembenahan bersama, akan mudah bagi kota ini mengubah cara pandangan netizen yang belakangan menyindir Bekasi. Bukankah cara “menampar” yang paling efektif adalah dengan membuktikan perbaikan secara nyata?

Tinggalkan Balasan