Desa dan Generasi Multitalenta

Kategori Thought
Sumber gambar: salasika.org
Sumber gambar: salasika.org

“Mengapa tak kau pesan setengah saja? Toh kalau kurang, kau tetap bisa tambah. Kalau sisa begini, apa bisa dikembalikan? Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati?”, tuturku.

Saya  mudah  ‘nyinyir’ ketika mendapati kebiasaan teman yang tak tuntas menghabiskan makanannya. Ini membuat saya risih dan berfikir betapa egoisnya kita: hanya karena alasan sudah kenyang dan kita yang membayarnya maka pantas ber-jumawa untuk membuang nasi dan sayuran tak berdosa. Beberapa kawan lain bahkan menimpalinya dengan “Ethiopia” yang busung lapar dan sebagian besar Afrika yang kesulitan pangan. Ketahuilah, dengan menyia-nyiakan makanan, kita turut berkontribusi terhadap bengkaknya 1,3 miliar ton makanan sisa dunia, lebih berat daripada 2,3 juta Airbus A380 (baca: Limbah Sisa Makanan Dunia).

Saya ingat betapa dulu di waktu kecil, orang tua saya selalu menasihati “nasi yang tak dimakan akan menangis, begitupun petaninya”. Ini mungkin lelucon masa kecil. Tapi cobalah untuk lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita: mereka yang sulit mendapat makan/ yang susah payah menyediakan makan. Kalau Anda orang yang senang mengamati kehidupan petani di desa, tentu lebih mudah memahami apa yang saya maksud. Petani bekerja pagi-petang hanya untuk memberi kita makanan – memenuhi kebutuhan pangan orang-orang di kota. Dari hari ke hari, mereka mengembangbiakkan bibit, menggarap sawah, menanam, merawat dan mengasihinya, lalu memanen, hingga melakukan pembibitan lagi dan seterusnya. Proses ini biasanya dikerjakan di atas puluhan hektar tanah oleh sekelompok orang yang sama, yakni para petani generasi multitalenta.

Memahami Generasi Multitalenta

Bercocok tanam membutuhkan kesabaran dan kekuatan fisik. Sebagai ilustrasi, di Indonesia, para petani beras umumnya membutuhkan waktu 4 bulan untuk satu kali panen. Andai semulus harvest moon, selama bercocok tanam, mereka sangat mungkin menghadapi resiko gagal panen akibat serangan hama dan peralihan cuaca. Pun telah sukses menghadapi resiko tersebut, hasilnya belum tentu menggembirakan. Para petani bisa jadi menghadapi permainan pengepul yang menekan harga komoditas melalui isu-isu gombal. Hasil panen anjlok karena pasar menghendaki kuota impor yang mampu menawarkan harga lebih murah. Daripada membusuk di gudang, beras pun dijual sangat murah meski tak balik modal. Mereka hanya bisa berharap harga lebih baik dapat diperoleh pada periode panen berikutnya.

Sebagai generasi multitalenta yang menghadapi resiko gagal panen dan harga anjlok, keluarga petani pun tak tinggal diam. Sambil menanam padi, para petani biasanya menanam tumbuhan lain di pematang sawahnya, seperti cabai dan terong dengan metode tumpang sari. Sebagian dari mereka juga membudidayakan kelapa di lahan-lahan pekarang untuk dimanfaatkan menjadi beberapa produk olahan sederhana: buahnya dikirim ke pasar, serabutnya menjadi ijuk, dan daunnya dipilin ketupat. Beberapa talenta lain bahkan ditunjukkan oleh mereka yang sengaja menyediakan ruang di halaman rumahnya untuk beternak lele, sapi, kambing, dan ayam. Para istri petani yang pandai memasak pun ikut menjalankan bisnis rumah tangga, dengan menggoreng sriping lalu dititipkannya ke pedagang pasar.

Menjadi generasi multitalenta adalah cara petani – orang-orang desa – untuk bertahanan hidup dari kejamnya keberpihakan pasar. Sayangnya, bila kita perhatikan, kebanyakan dari mereka adalah orang-orang sepuh – orang-orang yang sudah lanjut usia. Kita sering mendengar bahwa banyak para pemuda kekinian yang tak lagi tertarik menurunkan bakat multitalenta yang mereka miliki. Para pemuda desa merasa kesejahteraan keluarganya akan mudah dicapai bila mereka bersekolah formal dan mendapat pekerjaan ‘spesialis’ di kota. Tak ada yang salah dengan pandangan ini, toh kenyataan pasar berkata demikian. Bahkan para sarjana pertanian pun lebih tertarik bekerja di gedung berpendingin ruangan ketimbang urusi “laboratoriumnya”.

Fenomena tentang merosotnya jumlah generasi multitalenta merupakan akibat dari sektor pertanian yang tak lagi berdaya tarik. Hal ini semestinya membawa kita pada sebuah pertanyaan besar tentang siapa yang akan menyediakan pangan selanjutnya? Masih adakah yang tertarik menyediakannya untuk orang-orang kota? Ah, siapa peduli, toh makanan yang kemarin babak-belur disediakan rupanya tak pernah tuntas dihabiskan orang kita orang kota. Oh, andai menjadi petani dapat menjamin hasrat tentang kehidupan mewah: mobil mercy, apartemen mediterania, dan vila-vila yang menjajah pegunungan.

7 komentar pada “Desa dan Generasi Multitalenta

  1. yups benar. yang menjadi masalah besar saat ini adalah kurangnya jumlah petani,dan minat bertani,serta lahan pertanian.padahal kebutuhan akan pangan bangsa indonesia besar.sangat tidak sebanding dengan hasil produksi
    untuk website terkait silahkan kunjungi ST3 Telkom guys !

Tanggapi Artikel Ini