Inilah 10 Tanda Kota Anda Mulai Berhenti Nyaman

Kategori Thought
photo: pics4learning.com
photo: pics4learning.com

Bagi saya, pengalaman mengunjungi suatu kota sekaligus menjadi kesempatan untuk melakukan riset sederhana tentangnya. Kota, sebagai tempat huni yang dinamis, memiliki karakter ruang tertentu yang memberi rasa nyaman bagi siapa saja yang sedang menikmatinya. Penilaian tentang kenyamanan memang bersifat relatif. Namun begitu, berikut adalah 10 tanda yang saya rasakan bila suatu kota mulai berhenti nyaman:

1. Perang klakson saat lampu hijau baru menyala
Salah satu hal yang menandai suatu kota mulai berhenti nyaman dapat dilihat dari prilaku pengendara terhadap sistem lalu lintasnya. Ilustrasi sederhana tentang ini tercermin pada mereka yang terbiasa berperang klakson saat sinyal hijau pada lampu lalu lintas baru saja menyala. Perang klakson seolah mengecam para pengemudi yang lelet untuk segera melaju sebelum lampu hijau berganti. Sementara itu, lampu kuning tak lagi menandakan bahwa Anda harus mengurangi kecepatan. Bahkan, 2 detik setelah lampu merah berganti masih bisa dikorupsi untuk terus memacu kendaraan bermotornya.

2. Berhenti di depan marka jalan

Apakah Anda mengetahui bahwa posisi berhenti yang benar saat lampu merah adalah di belakang marka jalan? Bila di kota Anda banyak pengendara menghentikan lajunya di depan tanda tersebut, maka bersiaplah menghadapi hiruk-pikuk kota yang mulai berhenti nyaman.

photo: s1.yimg.com
photo: s1.yimg.com

3. Sulit mencari tempat parkir

Kesulitan mencari tempat parkir menandakan bahwa kota Anda mulai berhenti nyaman. Hal ini menyebabkan banyak orang memarkirkan kendarannya di bahu jalan sehingga mengganggu kelancaran pergerakan di sekitarnya. Celakanya, bila kesulitan parkir adalah ladang bisnis, maka jangan heran bila kota Anda akan dijamuri oleh kantong-kantong parkir liar.

4. Buang sampah sembarangan

Di kota yang berhenti nyaman para penduduknya tak lagi segan membuang sampah sembarangan. Puntung rokok, limbah makanan dan minuman, dengan sengaja di buang dari jendela kendaraan meski hal itu disaksikan oleh banyak orang. Pada kondisi yang lain, bongkahan sampah pun tak segan mereka lempar ke aliran sungai dan semak belukar, mulai dari yang berukuran mini hingga jumbo seperti kasur tidur, televisi, dan bangkai sepeda.

photo: media.npr.org
photo: media.npr.org

5. Berkegiatan serba liar

Di kota yang berhenti nyaman, penggunaan etika di berbagai kegiatan lambat laun semakin dihiraukan. Mula-mula papan reklame malu-malu menjorok ke arah jalan, lama-lama tak tahu malu menjadi sampah visual yang semakin besar ukurannya semakin kencang pula suaranya.

6. Selalu merasa was-was

Kota yang berhenti nyaman menyediakan spot-spot resiko kriminal, seperti ex-halte sebagai tongkrongan preman, gang-gang angker, dan minimarket para pemabuk. Pada malam hari merebak pula isu-isu pembegalan, pembacokan, dan perampokan yang membuat hati selalu was-was saat melakukan kegiatan.

photo: okezone.com
photo: okezone.com

7. Ruang terbuka publik terbengkalai

Kota yang berhenti nyaman tidak mampu mendedikasikan waktunya untuk membenahi ruang-ruang terbuka publik. Taman dan lapangan hadir dalam kondisi mengenaskan, termasuk jika dialihfungsikan sebagai lahan parkir, menumpuk sampah, dan menggantung jemuran. Sementara ketersediaannya merupakan kebutuhan dasar, di kota yang berhenti nyaman akan terlihat bagaimana banyak anak menghabiskan waktunya untuk bermain di tempat-tempat berbahaya, seperti jalan raya dan pinggir sungai. Sedangkan bagi mereka yang berkecukupan, para bocah disibukkan dengan gadget barunya untuk berselancar di jejaring sosial dunia maya.

8. Barang publik tak terurus

Berhati-hatilah karena kota yang berhenti nyaman akan menelantarkan barang publiknya di berbagai sudut. Beberapa ilustrasi dapat dilihat dari sejauh mana kota tersebut menaruh perhatiannya terhadap jaringan jalan dan pedestrian yang berkualitas. Kota yang berhenti nyaman menelantarkan jalan yang rusak dan berlubang bahkan hingga bisa dimanfaatkan sebagai kubangan lele. Selain itu, penelantaran barang publik juga dapat dilihat dari semakin becek dan kotornya pasar, terminal yang semakin semrawut, serta papan informasi (reklame, baliho) yang semakin memudar warnanya.

Photo: okezone.com
Photo: okezone.com

9. Semakin megah, semakin kumuh

Secara fisik, modernisasi sebuah kota dapat dilihat dari banyak beridirinya bangunan-bangunan megah, seperti pusat bisnis, hotel, apartemen, dan pusat perbelanjaan. Idealnya, kemegahan semacam ini turut menyejahterakan para penghuninya. Kota yang berhenti nyaman justru menunjukkan kondisi berlawanan. Pertumbuhan perputaran uang malahan memperluas kawasan kumuh perkotaan, memperbanyak orang miskin, serta menelantarkan tempat dan kegiatan tradisional. Kenapa? Kesejahteraan rupanya tidak dirasakan secara merata.

photo: clas.berkeley.edu
photo: clas.berkeley.edu

10. Darah tinggi sepulang beraktivitas
Kota yang berhenti nyaman membuat para penduduknya mengalami stres berkepanjangan. Alih-alih melepas lelah dengan berbincang sepulang kerja/ berkegiatan,  mereka justru mudah naik pitam karena kondisi badan yang sangat lelah dan otak tak lagi jernih. Ini akibat menikmati kehidupan kota yang semakin semrawut, kumuh, macet, dan banjir secara berulang-ulang.

2 komentar pada “Inilah 10 Tanda Kota Anda Mulai Berhenti Nyaman

Tanggapi Artikel Ini