Suara Anak dan Kehidupan Kota Masa Depan, Pentingkah?

Kategori Idea
foto: mommyish.com
foto: mommyish.com

“Jelas penting sekali, mereka adalah generasi penerus bangsa. Bisa berantakan negeri ini kalau anak-anaknya tak diberi perhatian!”

Baru-baru ini, sebuah penelitian melibatkan saya pada pekerjaan yang berkaitan dengan anak-anak di perkotaan. Tanyalah kepada siapapun yang hendak memajukan bangsa ini: seberapa pentingkah memberi perhatian terhadap kesejahteraan anak? Tentu jawabannya adalah sangat penting. Alih-alih anak adalah generasi penerus bangsa, sudah sejauh manakah kita, orang dewasa, para pemilik kekuatan dominan, mendengar langsung bagaimana kebutuhan anak-anak? Apakah segala keputusan yang telah kita buat telah membuat mereka merasa bahagia dan benar-benar berpengaruh baik terhadap kehidupan dan masa depan anak-anak?

Pada hakekatnya, anak adalah pribadi yang lahir dalam kondisi tidak merdeka. Mereka mengalami ketergantungan terhadap orang tua (atau orang yang lebih dewasa di sekitarnya) untuk memenuhi kebutuhannya. Contoh sederhana adalah kebutuhan mereka tentang uang jajan yang setiap hari tergantung dari kemampuan Ibu untuk menyiapkannya; atau kebutuhan mereka tentang tempat tinggal yang tergantung dari kemampuan Ayah untuk menyediakannya. Dengan kata lain, anak-anak tidak serta-merta dapat memperoleh kebutuhan mereka sendiri, dengan tangannya sendiri, baik yang bersifat materiil maupun non materiil.

Oleh karena ketergantungannya, anak-anak tentu memaklumi adanya suatu kekuatan yang perlu dipatuhi. Mereka cenderung menaati segala sesuatu yang telah ditetapkan orang-orang dewasa -tanpa celah- agar “bantuan” yang diterimanya tidak dikurangi atau dihapus sama sekali. Misal, mereka akan diberi uang jajan jika mereka mau bersekolah; atau mereka tetap boleh bermain asal tidak pulang terlalu malam – jika tidak mau diusir dari rumah. Bukankah hal semacam ini baik bagi tumbuh kembang anak-anak? Tapi pernahkah kita mendiskusikan kembali kepada mereka apakah aturan-aturan atau keputusan-keputusan yang telah kita buat telah benar-benar berdampak baik sebagaimana niat awal kita?

Dalam membuat aturan, seringkali kita, orang dewasa, para pemilik kekuatan dominan, hanya melihat anak sebagai objek dari sebuah keputusan. Padahal disadari atau tidak anak-anak-lah yang akan secara langsung mengalami, menanggung, dan menghadapi berbagai dampak atas keputusan-keputusan tersebut. Dampaknya pun bisa menjadi begitu mengkhawatirkan. Sebagai contoh, anak mungkin bisa kehilangan arti penting bersekolah hanya karena mereka tidak nyaman dengan situasi belajar-mengajar seperti tugas yang terlalu sulit, guru yang sangat galak, atau teman-teman yang suka mem-bully. Alhasil arti penting sekolah sebagai penunjang masa depan anak dapat berubah orientasi menjadi sekedar “agar dapat uang jajan”. Celakanya, diantara mereka yang sudah sangat tertekan bahkan tidak sungkan lagi berbohong saat pamit bersekolah -agar dapat uang jajan- namun rupanya membolos dan pergi ke tempat yang tak wajar bagi ukuran anak-anak. Selanjutnya, pada saat pembagian rapor, jika sang anak diketahui banyak bolos dan memiliki nilai merah, tak sedikit orang tua memilih jalan kekerasan tanpa mendengarkan terlebih dahulu apa alasan mereka.

Selanjutnya, dampak negatif dari menjadikan anak sebagai obyek keputusan juga dapat terjadi pada hubungan anak dengan lingkungan sekitarnya. Sebagai ilustrasi, suatu lingkungan yang sebelumnya tersedia lapangan tempat bermain pada suatu ketika dialihfungsikan menjadi lahan parkir/ tempat mengumpulkan sampah atas keputusan orang-orang dewasa. Anak-anak yang terbiasa dijadikan objek, tentu tidak akan berani menolak bahkan sekedar bertanya mengapa hal tersebut dilakukan. Akibatnya tak jarang dari mereka mencari hiburan lain dengan menghabiskan uang di warnet atau bahkan nongkrong-nongkrong bergaya preman di pinggir jalan sebagai bentuk “protes diam” (silent-protest) atas direbutnya ruang bermain anak. Kalau warnet sudah kecanduan atau nongkrong sudah bercampur minuman keras, barulah orang dewasa gegap-gempita terhadap prilaku anaknya yang -sekali lagi- tak jarang dieksekusi dengan jalan kekerasan.

Kedua ilustrasi di atas sebenarnya bermaksud untuk mengingatkan kita yang seringkali lupa memberi ruang bagi anak-anak untuk bersuara dan mengemukakan pendapatnya. Alasan tentang anak yang masih belum bisa apa-apa (red: tergantung dengan kita) sebaiknya tidak dijadikan dasar bagi orang dewasa untuk mengatur kehidupan mereka secara otoriter. Anak sebaiknya tidak dididik untuk takut berkeluh kesah terhadap orang-orang yang lebih dewasa. Cara hidup yang inklusif (terbuka) justru mampu menjadikan mereka lebih nyaman, bahagia, dan bertanggung jawab terhadap kehidupan yang telah disepakati bersama, yaitu dengan cara menjadikan anak sebagai subyek dari sebuah keputusan. Perlu digaris bawahi pula bahwa menjadi inklusif tidak berarti harus meng-iya-kan segala keinginan anak, tetapi lebih kepada upaya mendengar berbagai curhatan mereka sebagai pertimbangan pengambilan keputusan dan memberi alasan secara terbuka saat keinginannya belum dapat dituruti (misal: lewat pengalaman-pengalaman yang pernah dihadapi orang-orang sebelumnya). Bukankah mendengar apa yang mereka butuhkan/ keluhkan adalah sebaik-baiknya mengatasi masalah?

 

1 komentar pada “Suara Anak dan Kehidupan Kota Masa Depan, Pentingkah?

  1. Thanks for ones marvelous posting! I quite enjoyed reading it, you happen to be a great author.I will make certain to bookmark your blog and may come back at some point. I want to encourage yourself to continue your great writing, have a nice evening!

Tanggapi Artikel Ini