Am I sterdam?

Holand 1Kalau kamu penasaran, aku bersedia menceritakan pengalamanku selama sepekan di The Netherlands. Kau tahu, ini adalah kali pertamaku menginjakkan kaki ke negeri itu sendirian. Ya, sendirian, tanpa pasangan, no backup. Tidak seperti empat tahun lalu saat DAAD menerbangkanku ke Jerman, kali ini agendanya lebih serius, yaitu jalan-jalan untuk sebuah workshop yang diselenggarakan oleh KITLV terkait pelaksanaan UU Desa. Eits, jangan terburu-buru mendesakku untuk bercerita tentang materi workshop itu. Tulisan ini justru didedikasikan pada hari pertamaku yang membawa misi menyesatkan diri di Kota Amsterdam.

Clingak-clinguk

Dari Jakarta, aku berangkat tanggal 17 Mei sore dan tiba esok harinya di Schiphol Airport pukul 06.00 waktu setempat. “Ikuti saja orang lain melangkah, kamu akan selamat”, pikirku sambil clingak-clinguk di bandara yang super besar. Sebelum ke lokasi workshop, aku sudah merencanakan pagi hingga sore ini untuk berkeliling Kota Amsterdam. Mengintip bagaimana setiap orang membeli tiket kereta, yups aku berhasil mendapatkannya! Ku parkirkan koperku di stasiun sentral dan kutargetkan kaki ini melangkah, at least, berfoto didepan tulisan “I am sterdam” (sekitar 2 km kearah selatan dari tempatku memulai perjalanan).

Holand 3Amsterdam, yang kurasakan adalah kota dengan hingar-bingar pejalan kaki dan pesepeda. Mereka lebih dari beragam corak dan bahasa, memberi kesan bahwa nuansa multikultural sangat terasa di kota ini. Secara visual, hal pertama yang membuatku tercengang adalah panorama kanal. Kota ini dibelah oleh puluhan -mungkin ratusan- saluran air yang dibingkai dengan gedung-gedung ramping menjulang ala Holland. Perahu layar yang sesekali melintas, menambah romantis kota yang mengklaim dirinya lebih “kanal” daripada Venisia. Ya Tuhan, suasana fairy tale seperti ini benar-benar nyata adanya!

I am sterdam

Aku terus melangkah menuju “I am sterdam”. Awalnya, rute perjalanan di kota ini sudah kutulis begitu rijit. Namun keindahan kiri-kanan kota membuatku membiarkan kaki ini melangkah semaunya, se-capek-nya. Di Dam Square aku melihat seorang ibu mengangkat anaknya dari sebuah kereta bayi. Burung-burung dara sepertinya tahu apa yang hendak keduanya lakukan. Mengisyaratkan sebuah kerumunan, menunggu sang anak menebarkan serpihan roti yang sengaja ia bawa dari rumah. Anak itu terlihat sangat bahagia, merekahkan gigi-gigi putih yang baru tumbuh, menularkan ketentraman bagi siapa saja yang menaruh perhatian.

Oh iya, kota ini banyak sekali museumnya. Kurasa, mereka ingin menunjukkan bagaimana urat-urat pendidikan dan kebudayaan betul-betul mengalir di sini. Dari yang sangat historikal seperti Rijkmuseum, Van Gogh, dan Multatuli, hingga yang aneh-unik seperti museum tas dan dompet, museum keju, museum tubuh, dan wow museum sex. Kalau kamu bertanya apa aku memasuki museum-museum itu, maka jawabannya tidak. Alasannya sederhana: mahal. Satu tiket museum dihargai 13 EUR. Konon, kalau kamu pecinta sejarah, kamu bisa membeli tiket multiguna yang berlaku bagi seluruh museum di Belanda.

Holand 2Setelah berkeliling hampir satu jam, aku tiba di depan penanda “I am sterdam”. Ramai sekali di sini. Waktu itu, aku menemukan banyak anak-anak mengepalkan tangannya keatas dan berteriak “I am sterdam! I am sterdam!”. Berlatar belakang Rijkmuseum dengan kolam persegi panjang di bagian depannya, panorama “I am sterdam” mengingatkan aku pada salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Taj Mahal.Ya, walaupun tak ada sentuhan india dan timur tengahnya.

Usai mengambil beberapa foto, aku kembali ke stasiun sentral. Mencoba rute jalan yang berbeda, aku menghampiri sebuah pasar tulip Bloemenmarkt dan sejenak menyantap Haring Fish –irisan ikan mentah yang konon sangat terkenal di negeri Holland-. Soal rasa, kukira potongan acar dan bawangnya sangat membantuku menghabiskan makanan itu. Setelah tiba di stasiun, aku kembali membeli tiket kereta menuju Kota Leiden, tempat dilaksanakannya workshop. Kau penasaran bagaimana pengalaman ku di Leiden? Semoga kau cukup bersabar menunggu ceritanya..

3 comments on “Am I sterdam?

  1. keren banget bang udah nyampe Amsterdam 😀
    saya sedari dulu baru pernah ke KL Malaysia…itu aja udah seneng banget…apalagi ke Belanda 😀
    moga besok besok dapet kesempatan seminar kesana deh 😀

Tinggalkan Balasan