Am I Sterdam (Part 2): UU Desa dan Dinamika-Dinamika Itu

Kategori Insight
Kasteel Oud-Poelgeest; sumber foto: dazzlingphotos.nl
Kasteel Oud-Poelgeest; sumber foto: dazzlingphotos.nl

Sebagaimana janjiku sebelumnya, kali ini aku akan melanjutkan kisahku jalan-jalan mengikuti workshop bertema UU Desa di Belanda. Bagi yang baru mampir, ada baiknya membaca tulisanku Am I Sterdam?” (Part 1) terlebih dahulu.

●●●

Pada hari yang sama, aku memulai perjalanan dari Amsterdam menuju Leiden menggunakan kereta sekitar pukul 16.00 waktu setempat. Ini memakan waktu kurang lebih setengah jam, dilanjutkan dengan berjalan kaki ke lokasi menginap -yang juga merupakan tempat diselenggarakannya workshop-. Leiden rupanya lebih sepi dibandingkan Amsterdam. Namun begitu, aku merasa kota ini sehat dan menyehatkan karena banyak berdiri kampus-kampus bertema botani, biologi, dan medikal, serta ruang-ruang terbuka hijau dalam bentuk taman, semak, bahkan belantara hutan.

Aku menginap di Kasteel Oud-Poelgeest, dua kilometer dari stasiun sentral Kota Leiden. Konon, kastil ini dulunya merupakan kediaman salah seorang professor Universitas Leiden, dengan gedung tempatku menginap adalah kandang kuda miliknya. Secara visual, tempat ini tampak seperti sekolah Harry Potter yang tiap terbitnya matahari bersambut suara gagak di pinggiran kolam. Tiba di sana, aku membersihkan diri, beristirahat, dan bersiap untuk workshop selama dua hari ke depan.

UU Desa dan Dinamika-Dinamika Itu

Hari pertama workshop dimulai pada pukul 09.00 dengan sambutan dari Prof. Henk Schlute Nordholt, kepala divisi penelitian KITLV serta pengantar dari Jacqueline Vel dan Ward Berenschot selaku ketua panitia. Workshop bertajuk “New Law, New Villages? Changing Rural Indonesia” ini diselenggarakan oleh KITLV berkolaborasi dengan Leiden University, AMT, dan NHCR. Tujuannya adalah untuk melihat bagaimana perubahan karakter (yang sudah atau terindikasi akan terjadi) setelah Indonesia mengesahkan UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Kalau kamu tanya mengapa yang menyelenggarakan adalah sebuah institusi Belanda, aku pikir ini seperti kebanyakan pusat studi dengan tema-tema regional. Katakanlah pusat studi timur tengah di Indonesia, kita tentu mewajarkan bila mereka melakukan kajian regulasi atau dinamika politik yang terjadi di wilayah tersebut. Mungkin he-he.

Kembali ke kegiatan workshop, peserta yang hadir sebanyak 40-50 orang dengan sebagiannya berasal dari Indonesia. Keynote speech pada hari ini disampaikan oleh dua narasumber, yaitu Prof. em. Keebet von Benda-Beckmann (Max Planck Institute) dan Aferi S. Fudail, M.Si (Direktur Perencanaan dan Administrasi Desa, Kemendagri). Dalam paparannya, Keebet menyampaikan bagaimana perubahan karakter yang terjadi di desa nagari di Sumatera Barat sejak orde baru hingga memasuki era UU Desa. Sementara itu, dalam pidatonya Aferi mengungkapkan UU Desa secara tegas memberikan peluang bagi desa untuk mengelola dirinya sendiri.

Panel pada hari pertama membahas UU Desa dan kaitannya dengan (1) proses perumusan kebijakan, (2) akses terhadap keuangan negara, (3) konfilik lahan, dan (4) eksistensi adat. Adriaan Bedner (KITLV) mengungkapkan bagaimana UU Desa ini lahir dari semangat otonomi daerah memalui proses multi-stakeholders di berbagai level. Di sisi yang lain, Irfan (KOMPAK) melihat bagaimana kelahiran UU Desa juga terinspirasi dari spirit PNPM.

Hari ke dua Workshop

Selanjutnya, pada hari ke dua, workshop diawali dengan Keynote Speech dari Prof. em. Ben White (ISS, The Hague) mengenai diskursus UU Desa dan kaitannya dengan keterlibatan komunitas/ warga desa dalam jangka panjang. Ia menggarisbawahi bagaimana UU tersebut membuka ruang lebih luas bagi warga untuk berpartisipasi pada tiap tahap proses pembangunan di desa. Berbagai “term” yang mendorong pelibatan tersebut, antara lain gotong royong, kebersamaan, kerjasama, dan partisipasi itu sendiri.

Panel pada hari ini mengaitkan UU Desa dengan (1) pembangunan ekonomi perdesaan, (2) tata kelola desa, (3) kepemimpinan desa, dan (4) kepemimpinan wanita. Salah satu hal yang menarik dari panel tersebut antara lain dibawakan oleh Schut (UvA) yang dalam kesimpulannya belum melihat penggunaan Dana Desa untuk memberdayakan pemuda dalam hal edukasi dan ketenagakerjaan.

Credit: KITLV Doc.
Credit: KITLV Doc.

Aku sendiri mempresentasikan paperku pada panel “Village Leadership”. Paparanku hendak menunjukkan bagaimana posisi kaum marginal pada tahun awal implementasu UU Desa. Ini didasarkan pada bagian kecil dari keseluruhan studi yang telah dan sedang dilakukan SMERU hingga 2017 mendatang. Secara umum, belum terlihat upaya yang secara sadar dilakukan pemerintah desa untuk mendorong keterlibatan kaum perempuan dan orang miskin dalam proses perencanaan pembangunan desa. Untuk merespon situasi ini, aku mewacanakan beberapa rekomendasi, antara lain mendorong (1) kebijakan afirmatif, (2) pemberdayaan kaum marjinal, (3) pengoptimalan kelompok masyarakat, serta (4) peragaman pendekatan proaktif untuk memetakan kebutuhan kaum marjinal.

Hal yang membuatku bertambah senang adalah apa yang aku wacanakan rupanya diamini oleh Adrian Berdner sebagai hal menarik untuk dicermati pada riset-riset tentang UU Desa berikutnya, termasuk kemungkinan melakukan kolaborasi. Menurutnya, kemungkinan menyediakan lebih banyak saluran-saluran keluhan dan mekanisme penanganan komplain adalah hal yang sangat menarik untuk melihat efektivitas pelaksanaan UU Desa, terutama bagi warga miskin dan kaum marginal. Itu ia sampaikan pada sesi terakhir (what’s next session) sebelum acara workshop ditutup.

Itulah kisahku selama di Leiden. Oh, ya, aku masih punya cerita lagi terkait pengalamanku menjelajah negeri Holland. Sssstt.. Itu tentang Kota Den Haag. Penasaran? Semoga aku tidak lupa untuk menulisnya!

Ikuti keseruan lainnya, follow instagram saya di sini.

2 komentar pada “Am I Sterdam (Part 2): UU Desa dan Dinamika-Dinamika Itu

  1. Mas dari st. central leiden menuju kasteel oudpoelgeest ini, bisa ditempuh dengan jalan kaki ya. Mudah ga jalannya utk menuju ke penginapan ini?

Tanggapi Artikel Ini