Am I Sterdam (part 3): The Last Destination, The Hague

Peace Palace
Peace Palace

Catatan: sebelum melanjutkannya, pastikan kamu telah membaca part 1 dan part 2..

●●●

Satu malam seusai berakhirnya workshop, aku melanjutkan perjalanan ke Den Haag (The Hague), menikmati perpanjangan hari menginap. Aku menumpang di kamar salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang studi S2 di ISS. Olehnya, aku dipinjami sepeda untuk berkeliling kota. Aku menikmati Den Haag sebagai salah satu pusat mode di Belanda, ditandai dengan banyaknya toko-toko pakaian branded di kawasan pusat kota. Namun begitu, kota ini juga banyak dihiasi gedung-gedung pemerintahan. Salah satu yang paling terkenal adalah Noordeinde Palace (istana milik kerajaan Belanda), yang juga merupakan tempat bertemunya Perdana Menteri Belanda dengan Presiden Jokowi saat melakukan kunjungan kerja. Selain itu, ada pula Binnenhof yang konon merupakan Gedung DPR tertua di dunia; serta Peace Palace, yaitu mahkamah internasional yang pernah menjadi tempat diputuskannya sengketa Indonesia-Malaysia terkait Pulau Simpadan dan Ligitan.

Noordeinde Palace
Noordeinde Palace

Oh ya, aku memilih kota ini sebagai tempat menginap salah satunya karena rencana silaturahmi dengan dosenku yang kini bekerja di KBRI Belanda. Aku bertemu Beliau pada 22 Mei saat jam makan siang, berdiskusi tentang banyak hal. Mulai dari rencana melanjutkan pendidikan, tentang dataran Belanda yang lebih rendah dari permukaan laut (sehingga membutuhkan banyak kanal), serta perbandingan bentuk pusat kegiatan antara Belanda yang didesain dengan banyak Centrum (sehingga memungkinkan orang berjalan di udara bebas dan memiliki kesan inklusif) sedangkan Indonesia yang disibukkan dengan pembangunan Mall.

Pada malam harinya, aku memenuhi undangan makan malam teman-teman PPI Kota Den Haag sambil berbagi pengalaman bekerja di SMERU. Beberapa mengaku sudah mengenal SMERU melalui publikasinya. Mereka ini masih muda-muda -hampir seumuran denganku- dan sebagian besar adalah mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi di ISS. Mereka kemudian bertanya (1) mengapa aku ke Belanda, (2) sudah terlibat di penelitian apa saja, serta (3) apa saja suka duka bekerja di SMERU. Aku ingat, salah seorang dari mereka sempat menangis saat aku menceritakan kisah anak-anak miskin di Jakarta dan Solo dalam studi Kemiskinan Anak di Perkotaan.

UH1

Selama menginap di kota ini, aku menyisipkan waktu satu hari untuk mengunjungi Kota Utrecht. Di sana, aku berkeliling kUtrecht University yang bersebelahan dengan sebuah gereja raksasa dengan taman bunga tulip di bagian dalamnya. Selain itu, ada juga sebuah Masjid Jami yang terletak di dekat stasiun senteal Utrecht, dibangun atas kerjasama pemerintahan Turki dan Belanda.

Nah, itulah sepenggal kisah ku selama di Belanda. Semoga menginspirasi!

Ikuti keseruan lainnya, follow instagram saya di sini.

One comment on “Am I Sterdam (part 3): The Last Destination, The Hague

Tinggalkan Balasan