Jepang yang Seettt… Seettt… Sett…

Bagaimana? Aku tahu, kamu pasti penasaran mendengar ceritaku selama di Jepang setelah ketagihan dengan kisahku jalan-jalan mengikuti workshop di Belanda (hehe ge-er). Aku hendak berterimakasih terlebih dulu kepada SMERU yang telah memberangkatkanku ke negeri sakura, meski lagi-lagi sendirian. Keperluan kali ini adalah mengikuti agenda Human Development and Capability Association (HDCA) sepanjang 31 Agustus – 3 Oktober 2016. Tapi, seperti biasa sebelum bercerita perkara-perkara yang serius, aku akan mulai dengan pengalaman unik selama keberangkatanku. Mari kita mulai..

Pertama, aku berangkat dari Cengkareng pada Selasa (30/8) malam menggunakan tiket PP combo-pack Garuda Indonesia (supaya diskon hehe). Namun pada tiket keberangkatan tertulis (dengan font ukuran kecil) “operated by All Nipon Airways (ANA)”. Tulisan ini baru kusadari ketika check-in di konter bandara. Kau tahu, awalnya aku sempat kecewa karena tidak menggunakan Garuda. Tapi… begitu masuk ke dalam pesawat, waaaahhhhh…. futuristic! Kemudian muncul doa supaya tiket pulangku juga tertulis frasa berukuran kecil itu. Sayangnya tidak.

Fakir internet

Perjalananku memakan waktu kurang lebih tujuh jam di pesawat menuju Haneda International Airport. Aku tiba pukul 07.10 waktu setempat dengan perbedaan dua jam lebih awal dari Jakarta. Aku sempat mati gaya karena akses wifi (gratis) bandara sangat sulit. Padahal, Jepang yang aku dengar adalah negeri super canggih. Provider SIM Card Indonesia yang biasanya berganti operator pun di sini mati blas. Aku menghabiskan cukup banyak waktu untuk cari dimana spot wifi terbaik untuk mencari tahu bagaimana cara menuju Tachikawa, tempatku menginap, satu stasiun dari tempatku bertugas di Hototsubashi University.

Setelah mendapat sinyal wifi, hasil konsultasiku dengan google menyarankan penggunaan kereta dengan kartu SUICA (semacam e-money) agar memudahkan mobilitas. Aku screenshot semua rute menuju penginapan dan tempat konferensi, berikut cara membeli SUICA. Kartu itu aku beli di sebuah vending machine yang set – set – set, cepat sekali ia melahap uangku, memberikan kembalian, dan mengeluarkan kartunya. Mungkin ini yang disebut bahwa mesin meningkatkan efisiensi, walau aksinya membuatku sedikit terkejut.

Jepang yang set.. set.. set..

Aku menggunakan kereta dengan dua kali transit. Kereta pertamaku adalah Tokyo Monorail. Di sini, tersedia keranjang untuk menaruh koper besar – tampak sengaja didesain bagi mereka yang hendak menuju/meninggalkan bandara. Transit pertamaku di Shinagawa untuk berganti kereta Yamanote Line. Nama itu harus ku ingat-ingat agar tau ke tangga yang mana aku harus turun, di tikungan mana aku harus berbelok, dan di peron mana aku harus menunggu kereta. Begitu kakiku menginjak peron dan meninggalkan monorail, Ya Tuhan, di stasiun ini banyak sekali manusia berhamburan. Mereka berlalu-lalang serba cepat, bertubuh kecil, berjalan tegap, dengan langkah kakinya sangat gesit. Bisakah kau bayangkan bahwa aku:

Menggemblok sebuah tas punggung, menyimpang tas pinggang, menenteng koper besar, dengan tangan kanan menggenggam handphone mengecek screenshot dan berganti tatap mencari penunjuk arah -yang tulisan Jepangnya jauh lebih besar- menuju peron Yamanote Line?

Untuk mengatasi situasi yang menegangkan ini, hal pertama dan paling penting kau lakukan adalah: menarik napas! Begitu koper kau seret maka melipirlah ke arah dinding atau tiang terdekat stasiun untuk: menarik napas lagi. Pastikan tidak berhenti mendadak di tengah kerumunan kalau tidak mau ter-bum-bum-bum- seperti bombom car. Sesekali membelah arus manusia, ku sarankan kau “memberi tangan” layaknya memberi sign saat  mengendarai motor. Meski menegangkan, tidak ada dari mereka yang “rusuh”. Mereka antri dengan damai -naik/turun tangga, escalator, masuk ke dalam kereta-.

Sepuluh menit aku berjibaku, akhirnya berhasil masuk ke kereta tujuan. Setelah menarik nafas panjang, ada hal menarik yang baru aku sadari setelah berpindah kereta. Yap, mereka serba putih. Bukan kulitnya, karena itu sudah jelas. Tapi bajunya! Pada hari kerja, hampir tidak ada kemeja yang dikenakan oleh para pria selain warna-warna terang, apalagi warna-warna gelap/palet. Sementara itu, pilihan berbusana bagi perempuan nampaknya hanya putih dan hitam saja. Aku tidak tahu persis apakah ini merupakan hal yang diatur dalam ketenagakerjaan Jepang atau justru bagian dari budaya mereka. Konon, pada hal lain seperti penggunaan payung, orang-orang Jepang juga ada melakukan pembedaan penggunaan warna antara payung yang dikenakan saat musim panas dengan saat hujan.

Kembali ke topik utama, total waktu yang kuhabiskan untuk tiba di penginapan adalah sekitar dua jam. Ini baru pukul 11.00 sedangkan kamar belum bisa ku gunakan hingga empat jam mendatang. Oleh karenya, setelah menumpang kamar mandi lobi dan menitip koper, aku berangkat kembali ke Hitotsubashi University, untuk mengikuti acara pre-conference.

Ceritanya sampai sini dulu.. nanti akan kulanjut lagi ya..

Ikuti keseruan lainnya di sini.

Tinggalkan Balasan