Ruang Pengasuhan Komunal, Mengapa Tidak?

Kategori Idea, Thought

Saya memasuki masa dimana sebagian kawan telah menikah bahkan memiliki momongan. Sementara semakin banyak perempuan yang kini memiliki kesempatan berkarir, terutama di kota-kota besar, maka salah satu topik yang mengemuka adalah tentang rencana pengasuhan. Siapa yang mengasuh? Bagaimana mengasuhnya? Dan apa yang harus dilakukan bila menghadapi kesulitan?

Sebagian mengeluh hitung-hitungan hak cuti bagi pekerja perempuan yang hendak melahirkan. Undang-Undang Ketenagakerjaan menetapkan perkara itu masing-masing 1,5 bulan sebelum dan setelah melahirkan. Keluhan bisa jadi masuk akal. Misalnya, atas pertimbangan kesehatan bayi, pemberian ASI eksklusif idealnya dilakukan selama 6 bulan pasca kelahiran dan tetap perlu diasup hingga 18 bulan setelahnya. Alhasil, banyak ibu bersiasat dengan memproduksinya di kantor, memasukannya ke dalam botol, dan menjamin suhu ASI tetap dingin hingga pulang ke rumah. Itu dilakukan setiap hari -sekali lagi setiap hari- dengan situasi yang susah-susah gampang.

Telah banyak kajian kesehatan membuktikan bahwa ASI sangat penting bagi tumbuh kembang anak, misal untuk meningkatkan daya tahan tubuh, pertumbuhan tulang, dan kemampuan merespon. Sebuah forum bertajuk tantangan pemberian ASI yang diselenggarakan SMERU pada Oktober lalu, menyebut tidak tersedianya ruang khusus bagi ibu menyusui di tempat kerja sebagai salah satu permasalahan. Urgensinya mudah kalah dengan bahasa produktivitas. Biaya ekonomi menyediakan ruang menyusui dianggap mahal dibandingkan untuk kerja-kerja-kerja. Apalagi jumlah pekerja menyusui acapkali tak menentu bahkan tidak selalu ada di tengah ruang kantor yang sangat terbatas.

“Bila begitu problemnya, mengapa tak menginisiasi secara komunal?”, pikirku dalam perjalanan kereta pulang, usai menghadiri forum. Idenya mengajak kerjasama kantor-kantor sekitar untuk urunan menyewa ruangan menyusui. Dalam bahasa Patrick McNutt (1999) ruangan tersebut diklasifikasikan milik klub (club goods) yang sifat penggunaannya bisa dibatasi namun tidak perlu bersaing. Paling tidak, biayanya tidak lebih mahal daripada menyediakan sendiri-sendiri. Fasilitasnya pun dapat diiur bersama, seperti pembelian kulkas, kotak pendingin, pompa ASI, dan lain sebagainya. Ruang tersebut bahkan bisa dijadikan wadah kumpul para ibu untuk berbagi informasi pengasuhan.

photo source: brighthorizons.com
photo source: brighthorizons.com

Pada tingkat tertentu, ide semacam ini mungkin dapat diperluas untuk kegiatan pengasuhan lainnya, seperti baby daycare atau pendidikan anak usia dini (PAUD). Serikat pekerja lintas kantor bisa menyewa ruangan di lokasi yang mudah dijangkau oleh masing-masing tempat kerja dan merekrut tenaga pengasuh untuk merawat anak-anak mereka. Untuk kepentingan keamanan, serikat juga bisa memasang CCTV di sudut ruangan yang bisa diakses oleh orang tua melalui telepon selular. Dengan begitu, pada waktu istirahat mereka dapat berkunjung dan makan siang bersama. Romantis bukan?

Namun setelah dipikir-pikir, ide daycare atau PAUD komunal nampaknya tidak cukup baik bagi mereka yang melaju antar kota-antar provinsi. Bayangkan, sang anak harus ikut orang tuanya bekerja tiap hari, misal menggunakan kereta yang penuh sesak atau kendaraan bermotor yang padat merayap. Apa tidak masuk angin?

Tanggapi Artikel Ini