Urbanisme Konyol

Kategori Thought

Hampir empat tahun selepas kuliah, saya hidup sebagai penglaju Bekasi-Jakarta. Sebagian orang mungkin berkata itu biasa bahkan belum apa-apa. Di kantor saja, sebagian teman telah menjadi penglaju selama lebih dari 10 tahun. Di kereta, banyak orang bisa bercerita tentang perubahan KRL dari masa ke masa. Katanya, dulu belum seenak sekarang. Dua puluh tahun lalu, kereta masih menggunakan tiket karton yang dilubangi bagian tengahnya. Orang bebas keluar masuk tanpa beli karcis, berebut ruang, berhimpit, bahkan merambat atap gerbong. Uniknya mereka betah! Ini semacam urbanisme konyol ala ibu kota.

Cara hidup berkota yang konyol juga bisa ditemui pada perkara-perkara lain. Seberapapun orang mengutuk kemacetan, mereka tetap “betah” melaju mobilnya. Sekalipun tahu bahwa jam 4-5 sore adalah waktu terpadat jalan raya, kita tetap mau “menikmatinya”. Sebagian bisa saja terus-terusan mengeluh bahwa bermotor dari Gunung Putri ke Sudirman bisa membuat kedua bahunya copot dan bokongnya tepos, itu sekedar intermezzo saja. Bayangkan, mereka tetap melakukannya setiap hari, bolak-balik, “berangkat matahari belum terbit, pulang saat ia sudah terbenam lagi”, katanya.

Di satu tempat, orang menghujat PKL yang bikin macet dan “makan tempat”. Akan tetapi, di tempat lain mereka tetap suka dengan gorengan atau pecel lelenya yang murah. Mereka bersedia antri di warung-warung tenda langganannya meski orang lain bicara itu tidak sehat dan higienis. Syukur, mereka masih hidup dan saling menghidupkan sampai sekarang. Alhamdulillah.

imgsource: satujam.com
imgsource: satujam.com

Konon pak ogah dan parkir liar menyuburkan premanisme. Sadar tak sadar kita ikut menerima manfaatnya. Mereka yang dapat tanah klaster dalam kampung pasti tahu soal ini. Atau, nikmatilah sabtu-minggu malam di Jl. S. Parman simpang Semanggi yang seringkali macet karena mobil-mobil mewah telah menutup tiga lajurnya. Untuk apa? Kondangan di gedung mewah!

Mungkin kalau bukan orang Indonesia, mereka akan mudah frustasi. Meninggal setengah mati. Toh, tak sedikit orang sini yang pulang dari sana, tidak bisa beradaptasi lagi. Sedih atau menyedihkan?

Kita menghujat sesuatu yang kita nikmati. Apa maksudnya? Konon, ada hate-love relationship yang terbangun antara ibu kota dan penduduknya. Ups, maksud saya penikmatnya. Seperti sebuah pasangan, bahwa saling menerima kekurangan adalah cara terbaik membina kebetahan. Rasa betah ini lah yang pada akhirnya membuat kita bertahan. Dalam bahasa kerennya tangguh. Kota tangguh? Lagi-lagi berbicara tentang apa yang membuat warganya dapat bertahan dengan caranya sendiri. Lalu, apa benar kita ingin melenyapkannya? Mencopot dan mengganti dengan “yang lain” yang belum tentu mau berbagi? “Pembiaran sepenuhnya” tampaknya juga bukan frasa yang bijaksana. Apa benar begitu? Nikmati saja. Ah dasar konyol!

Ikuti keseruan lainnya di sini.

2 komentar pada “Urbanisme Konyol

Tanggapi Artikel Ini