Urbanisme Konyol

Hampir empat tahun selepas kuliah, saya hidup sebagai penglaju Bekasi-Jakarta. Sebagian orang mungkin berkata itu biasa bahkan belum apa-apa. Di kantor saja, sebagian teman telah menjadi penglaju selama lebih dari 10 tahun. Di kereta, banyak orang bisa bercerita tentang perubahan KRL dari masa ke masa. Katanya, dulu belum seenak sekarang. Dua puluh tahun lalu, kereta masih menggunakan tiket karton yang dilubangi bagian tengahnya. Orang bebas keluar masuk tanpa beli karcis, berebut ruang, berhimpit, bahkan merambat atap gerbong. Uniknya mereka betah! Ini semacam urbanisme konyol ala ibu kota.

Lanjutkan Membaca "Urbanisme Konyol"
Informalitas dan Masa Depan Ketangguhan Pesisir Semarang

Tulisan ini sedang tidak terinsiprasi dari kisah “sukses” Jakarta ‘merelokasi’ –bila terlalu sensitif disebut menggusur- ratusan warga Kampung Pulo dari bantaran Ciliwung ke rumah susun; atau juga kehebatan Yogyakarta yang sedang ‘memodernisasi’ –bila tidak mau disebut memarginalkan- perkampungannya dengan jajaran hotel yang lebih mewah, teratur, dan menguntungkan.

Lanjutkan Membaca "Informalitas dan Masa Depan Ketangguhan Pesisir Semarang"
Mega-Urban Disaster dan Informalitas Merespon Bencana

Hari selasa lalu, tepatnya 7 Juli 2015, saya mewakili Lembaga Penelitian SMERU menghadiri undangan Expert Workshop yang diselenggarakan Fakultas Geografi Universitas Collogne (bekerjasama dengan Fakultas Geografi UGM) di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan workshop adalah memberikan masukan terhadap temuan awal riset tentang “Mega-Urban Disaster Response – The Role of Self-Organization in the Aftermath”…Lanjutkan Membaca “Mega-Urban Disaster dan Informalitas Merespon Bencana”