Tidak Ada Senyuman Hari Itu

Tidak ada senyuman hari itu. Sejak pagi, sebuah KRL dikabarkan anjlok di Manggarai saat manusia Jakarta Raya sibuk-sibuknya. Mungkin dia terlalu bersemangat. Kalau berani lihat petanya, Manggarai adalah simpul hampir seluruh relasi kereta. Sudah menghitung yang jarak jauh? Mereka juga lewat situ! Di Duri, satu-satu manusia turun hingga belasan dan puluhan. Tak jelas sampai kapan…Lanjutkan Membaca “Tidak Ada Senyuman Hari Itu”

Urbanisme Konyol

Hampir empat tahun selepas kuliah, saya hidup sebagai penglaju Bekasi-Jakarta. Sebagian orang mungkin berkata itu biasa bahkan belum apa-apa. Di kantor saja, sebagian teman telah menjadi penglaju selama lebih dari 10 tahun. Di kereta, banyak orang bisa bercerita tentang perubahan KRL dari masa ke masa. Katanya, dulu belum seenak sekarang. Dua puluh tahun lalu, kereta masih menggunakan tiket karton yang dilubangi bagian tengahnya. Orang bebas keluar masuk tanpa beli karcis, berebut ruang, berhimpit, bahkan merambat atap gerbong. Uniknya mereka betah! Ini semacam urbanisme konyol ala ibu kota.

Lanjutkan Membaca "Urbanisme Konyol"
Modernitas Jakarta di tengah Kemiskinan Ibu Kota

Jakarta merupakan kota terpadat di Indonesia dengan pertumbuhan penduduk yang cepat dan signifikan. Kota ini menjadi tempat temu jutaan manusia yang berbondong-pindah atas nama kesejahteraan. Hampir semua jenis kebutuhan tersedia di sini, mulai dari pekerjaan, pendidikan, bisnis, layanan kesehatan, hiburan, dan lain sebagainya. Tapi apa semua itu mudah didapatkan?

Mega-Urban Disaster dan Informalitas Merespon Bencana

Hari selasa lalu, tepatnya 7 Juli 2015, saya mewakili Lembaga Penelitian SMERU menghadiri undangan Expert Workshop yang diselenggarakan Fakultas Geografi Universitas Collogne (bekerjasama dengan Fakultas Geografi UGM) di Gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Tujuan workshop adalah memberikan masukan terhadap temuan awal riset tentang “Mega-Urban Disaster Response – The Role of Self-Organization in the Aftermath”…Lanjutkan Membaca “Mega-Urban Disaster dan Informalitas Merespon Bencana”